| Reality and Illusion |
Realita dan Ilusi |
| Death of a Salesman uses flashbacks to present Willy's memory during the reality. |
Death of a Salesman memakai kilas balik untuk menunjukkan ingatan William dalam realita. |
| The illusion not only “suggests the past, but also presents the lost pastoral life.” |
Ilusinya bukan hanya "menyiratkan masa lalu, tapi juga menampilkan kehidupan tenangnya yang hilang." |
| Willy has dreamed of success his whole life and makes up lies about his and Biff's success. |
Willy telah memimpikan kesuksesan sepanjang hidupnya dan mengarang kebohongan tentang kesuksesannya dan Biff. |
| The more he indulges in the illusion, the harder it is for him to face reality. |
Semakin ia tenggelam dalam ilusi, semakin sulit baginya untuk menghadapi kenyataan. |
| Biff is the only one who realizes that the whole family lived in the lies and tries to face the truth. |
Biff adalah satu-satunya yang menyadari seluruh keluarga hidup dalam kebohongan dan mencoba menghadapi kebenaran. |
| Willy Loman |
Willy Loman |
| Willy Loman dreams of being a successful salesman like Dave Singleman, somebody who has both wealth and freedom. |
Willy Loman bermimpi menjadi penjual yang sukses seperti Dave Singleman, seseorang yang memiliki kekayaan dan kebebasan. |
| Willy believes that the key to success is being well-liked, and his frequent flashbacks show that he measures happiness in terms of wealth and popularity. |
Willy percaya bahwa kunci kesuksesan adalah disukai orang, dan kilas baliknya yang sering terjadi menunjukkan bahwa ia mengukur kebahagiaan dengan kekayaan dan popularitas. |
| One analyst of the play writes: “Society tries to teach that, if people are rich and well-liked, they will be happy. Because of this, Willy thought that money would make him happy. He never bothered to try to be happy with what he had …”Willy also believes that to attain success, one must have a suitable personality. |
Satu penganalisis sandiwara itu menulis: "Masyarakat mencoba mengajari bahwa, jika orang-orang kaya dan disukai banyak orang, mereka akan bahagia. Karena hal itu, Willy mengira bahwa uang akan membuatnya bahagia. Ia tak pernah repot-repot mencoba bahagia dengan apa yang dimilikinya..." Willy juga percaya bahwa untuk mendapat kesuksesan, seseorang harus punya kepribadian yang cocok. |
| According to another analyst, “He believes that salesmanship is based on ‘sterling traits of character’ and ‘a pleasing personality.’ But Willy does not have the requisite sterling traits of character; people simply do not like him as much as he thinks is necessary for success.” |
Menurut penganalisis lain, "Ia percaya bahwa keahlian menjual itu berdasarkan pada 'sifat karakter yang hebat' dan 'kepribadian yang menyenangkan.' Tapi Willy tidak memiliki sifat karakter hebat yang diperlukan; orang-orang hanya tidak menyukainya sebesar yang dikiranya perlu untuk sukses." |
| Uncle Ben |
Paman Ben |
| Ben symbolizes another kind of successful American Dream for Willy: to catch opportunity, to conquer nature, and to gain a fortune. |
Ben melambangkan jenis kesuksesan Impian Amerika lainnya bagi Willy: untuk mendapat kesempatan, untuk menaklukkan alam, dan mendapatkan kekayaan. |
| His mantra goes: “Why, boys, when I was seventeen I walked into the jungle, and when I was twenty-one I walked out. (He laughs.) And by God I was rich.” |
Mantranya berbunyi: "Anak-anak, waktu usiaku 17 tahun aku berjalan ke dalam hutan, dan waktu aku berusia 21 tahun aku berjalan keluar. (Dia tertawa.) Dan demi Tuhan, aku menjadi kaya." |
| Biff |
Biff |
| After seeing his father's real identity, Biff does not follow his father's “dream” because he knows that, as two analysts put it, “Willy does see his future but in a blind way. Meaning that he can and cannot see at the same time, since his way of seeing or visualizing the future is completely wrong.” |
Setelah melihat identitas asli ayahnya, Biff tidak mengikuti "impian" ayahnya karena ia tahu bahwa, seperti yang dikatakan dua penganalisis, "Willy melihat masa depannya tapi dengan cara yang buta. Artinya ia bisa dan tidak bisa melihat secara bersamaan, karena caranya melihat atau memvisualisasikan masa depan sangat salah." |
| Bernard and Charley |
Bernard dan Charley |
| One thing that is apparent from the Death of a Salesman is the hard work and dedication of Charley and Bernard. |
Satu hal yang tampak jelas dari Death of a Salesman adalah kerja keras dan dedikasi Charley dan Bernard. |
| Willy criticizes Charley and Bernard throughout the play, but it is not because he hates them. |
Willy mengkritik Charley dan Bernard sepanjang sandiwara, tapi itu bukan karena dia membenci mereka. |
| Rather, it's argued that he is jealous of the successes they have enjoyed, which is outside his standards. |
Justru, dipercaya bahwa ia iri pada kesuksesan yang sudah mereka nikmati, yang berada di luar standarnya. |
| The models of business success provided in the play all argue against Willy's "personality theory." |
Model kesuksesan bisnis yang ditunjukkan dalam sandiwara semua berargumen melawan "teori kepribadian" Willy. |
| One is Charley, Willy's neighbor and apparently only friend. |
Salah satunya adalah Charley, tetangga Willy dan ternyata satu-satunya temannya. |
| Charley has no time for Willy's theories of business, but he provides for his family and is in a position to offer Willy a do-nothing job to keep him bringing home a salary. |
Charley tak punya waktu untuk teori bisnis Willy, tapi ia mencari nafkah untuk keluarganya dan berada di posisi di mana ia bisa menawari Willy pekerjaan mudah untuk membuatnya tetap mendapatkan gaji. |
| (Bloom 51) |
(Bloom 51) |